Sabtu, 09 Juli 2011

Ayah Ngentot Anak Kandung

Selepas SMA, Cindy, waktu itu 20 tahun, melanjutkan studinya ke Akademi Sekretaris ternama di Bandung. Dengan wajah sangat cantik, tubuh tinggi semampai, dan kemampuan akademis yang cukup baik, pantaslah kalau Cindy memasuki akademi tersebut. Pacar Cindy sejak SMA, Andre, tetap setia dan semakin serius dalam menjalin hubungan dengan Cindy.
“Mau kemana lagi, Fen?” tanya Andre sambil melirik ke Cindy.
“Pulang, ah.. Aku capek sehabis ujian tadi,” jawab Cindy sambil bersandar pada jok mobil, matanya terpejam.
Andre sekilas melirik pada paha Cindy yang putih mulus. Rok mini yang dipakai Cindy naik tersingkap dengan posisi duduk Cindy tersebut.
“Fen, kita ke motel dulu, ya..?” ajak Andre.
“Yee, kamu horny ya?” kata Cindy melirik Andre sambil tersenyum.
“Habisnya aku tidak tahan melihat kamu…” kata Andre sambil tersenyum pula.
“Ya sudah, mau dimana?” tanya Cindy sambil tangannya mengelus paha Andre yang sedang mengemudi.
Andre tak menjawab. Hanya senyuman saja yang tampak di wajahnya sementara mobil diarahkannya menuju sebuah motel..
“Buka dong semua pakaian kamu,” kata Andre sementara dia sendiri melucuti semua pakaiannya.
“Ih dasar otak horny!” kata Cindy tersenyum sambil melepas seragam kuliahnya.
“Aku cinta kamu..” kata Andre sambil memeluk tubuh telanjang Cindy dari belakang.
Satu tangan meremas buah dada Cindy, sementara satu tangan mengelus dan mengusap memeknya.
“Mmhh…” desah Cindy sambil terpejam. Tangan Cindy menggenggam kontol Andre yang sudah tegak dan sesekali mengenai belahan pantatnya.
“Mmhh.. Enak sayang…” bisik Andre ketika Cindy mengocok kontolnya.
Cindy tersenyum dan langsung membalikkan badannya menghadap Andre lalu mengecup bibirnya. Andre membalas kecupan bibir Cindy dengan hangat.
“Hisap, dong…” bisik Andre di telingan Cindy.
Cindy tersenyum sambil merendahkan badannya dan langsung berjongkok. Wajahnya tepat di depan kontol Andre yang sudah berdiri tegak. Lidah Cindy mulai menjilati kepala kontol Andre sementara tangannya tetap mengocok batangnya.
“Ohh.. Enak sayang…” bisik Andre sambil memompa kontolnya pelan ketika Cindy mulai mengulum batang kontolnya.
Jilatan, hisapan serta kocokan tangan Cindy pada kontolnya membuat Andre mengejang menahan nikmat.
“Gantian dong…” kata Cindy sambil bangkit setelah beberapa waktu.
Cindy bersandar ke dinding sambil berdiri. Andre jongkok lalu diciumnya bulu kemaluan Cindy. Cindy memejamkan matanya dan melebarkan kakinya ketika lidah Andre mulai menelusuri belahan memeknya.
“Oww.. Enak banget, sayang,” kata Cindy sambil memegang kepala Andre dan mendesakan ke memeknya.
Pinggulnya bergerak naik turun ketika lidah Andre bermain di lubang memek dan kelentitnya bergantian.
“Ohh.. Sshh…” desis Cindy merasakan kenikmatan yang tak terhingga.
Cindy terpejam dan mendongak sambil mendesakkan kepala Andre lebih keras ke memeknya ketika ada sesuatu yang sangat nikmat tiada tara yang mau keluar..
“Ohh.. Ohh.. Ohh…” Cindy menjerit pelan tertahan ketika mencapai puncak orgasmenya.
Terasa ada yang menyembur hangat enak di dalam memeknya.
“Mmhh.. Enak sekali sayang,” kata Cindy sambil agak membungkuk lalu mencium bibir Andre yang masih basah oleh cairan memeknya.
Andre sepertinya sudah tidak tahan lagi. Setelah membalas ciuman Cindy sesaat, segera ditariknya tubuh Cindy ke atas ranjang. Cindy telentang sambil membuka kakinya lebar. Dengan tak sabar Andre segera menaiki tubuhnya lalu mengarahkan kontolnya ke memek Cindy. Tangan Cindy segera menggenggam dan membimbing kontol Andre ke lubang memeknya. Dengan sekali desakan, kontol Andre sudah masuk ke memek Cindy. Kontol Andre keluar masuk memek Cindy disertai bunyi khas..
“Mmhh…” Cindy mendesah sambil terpejam sementara pinggulnya bergoyang mengimbangi gerakan Andre.
“Enak sekali, sayangghh…” desah Andre.
Setelah beberapa waktu dan beberapa posisi bersetubuh mereka lakukan, Andre hampir mencapai puncak kenikmatannya. Kontol Andre semakin cepat keluar masuk memek Cindy. Ketika puncaknya, Andre segera mencabut kontolnya lalu turun dan berdiri di pinggir ranjang. Cindy yang sudah terbiasa, langsung mengerti. Kontol Andre yang masih basah oleh cairan memeknya segera dikulum han dihisap kuat sambil dikocok pelan. Andre terpejam sambil memegang kepala Cindy dan mendesakkan kontolnya agak dalam ke mulut Cindy. Tak lama, crott! Crott! Crott! Air mani Andre tumpah di dalam mulut Cindy yang terus menghisap kontolnya.
“Wohh.. Enak sekali, sayang,” ujar Andre dengan nafas berat.
Cindy tersenyum sambil menjilati batang dan kepala kontol Andre dari sisa air maninya yang masih menempel. Lalu mereka berciuman..
“Cepat pulang ah…” kata Cindy setelah mereka selesai berpakaian dan merapikan diri.
“Ya sayang…” kata Andre sambil menggandeng Cindy keluar kamar.
Sesampai di rumah, Andre segera pulang setelah berpamitan kepada Papa dan mama Cindy.
“Lama amat sih, Fen?” tanya mamanya.
“Iya, mam.. Tadi kami nyimpang dulu ke tempat makan,” kata Cindy ringan sambil segera ke kamarnya untuk ganti pakaian.
Malam harinya, ketika mereka sedang nonton TV, Papa dan Mama Cindy segera bangkit dari tempat duduk karena sudah waktunya jam tidur.
“Kamu jangan terlalu malam begadang, nanti sakit kepala,” kata mamanya kepada Cindy.
“Iya, Mam.. Tanggung nih film sedang seru-serunya,” kata Cindy sambil matanya terus melihat TV.
Lalu mereka segera masuk kamar. Setelah beberapa menit, telinga Cindy menangkap suara ranjang berderit berulang-ulang. Sebetulnya Cindy sudah mengerti apa yang sedang terjadi di kamar orang tuanya. Cindy bersikap cuek saja awalnya. Tapi rasa penasaran dihatinya membuat Cindy ingin mengintip mereka. Segera Cindy bangkit lalu mengendap mengintip dari lubang kunci. Walaupun tidak terlalu jelas tapi Cindy dapat melihat Papa Mamanya sedang bersetubuh.
Darah Cindy berdesir karenanya. Ketika mata Cindy melihat buah zakar dan kontol papanya yang keluar masuk memek Mamanya, darahnya makin berdesir. Matanya lebih jelas lagi melihat kontol papanya ketika mereka telah selesai bersetubuh, papanya bangkit dan mengelap kontolnya yang basah. Tampak jelas di mata Cindy betapa kontol papanya lebih besar dari kontol Andre. Cindy segera berdiri, mematikan TV lalu segera bergegas masuk kamarnya. Di atas ranjang, Cindy tidak bisa memejamkan matanya. Terbayang terus persetubuhan Papa Mamanya tadi, terlebih ketika terbayang kontol Papanya yang besar.. Perasaan Cindy jadi gelisah.
Sejak saat itu Cindy secara sadar arau tidak selalu memperhatikan gerak gerik Papanya. Apalagi bila Papanya hanya memakai kolor saja. Mata Cindy selalu mencuri pandang ke paha dan selangkangan Papanya. Papa Cindy waktu itu berumur 43 tahun. Badannya bersih dan tegap.
Suatu malam..
“Pijitin pundak Papa, Fen.. Pegal amat,” kata Papa Cindy waktu mereka nonton TV.
“Kalau begitu Papa duduk di bawah biar Cindy gampang mijitnya,” kata Cindy.
Papanya segera turun dari kursi lalu duduk di lantai. Cindy segera memijit pundak Papanya sambil nonton TV.
“Mama ngantuk ah.. Mau tidur duluan, Pa…” kata Mamanya sambil bangkit dan menuju kamarnya.
“Cindy sayang Papa,” bisik Cindy sambil merangkulkan tangannya ke leher Papanya.
“Nah, biasanya suka ada maunya kalau kamu sudah begini,” kata Papanya sambil tersenyum dan menoleh ke Cindy.
“Mm.. Cindy tidak minta apa-apa kok, Pa…” bisik Cindy lagi manja.
“Cindy hanya mau bilang kalau Cindy sayang Papa,” kata Cindy sambil mencium pipi Papanya.
Papanya diam sambil tersenyum sambil tanganya memegang tangan Cindy yang sedang memeluk dirinya dari belakang.
“Tumben kamu manja begini,” kata Papanya sambil menoleh dan menatap Cindy lama.
Cindy tersenyum lalu mencium pipi Papanya lagi berkali-kali. Darah Cindy mulai berdesir.
“Ada apa sih, Fen?” kata Papanya lagi sambil tersenyum.
Ucapan Papanya tidak bisa terus ketika bibir mungil Cindy mengecup bibirnya.
“Cindy sangat sayang Papa,” bisik Cindy lirih sambil bibirnya melumat hangat bibir Papanya.
Papa Cindy pada awalnya kaget atas tindakan putrinya ini, tapi lama kelamaan sentuhan hangat bibir Cindy bisa menghangatkan perasaan dan gairahnya. Dibalasnya ciuman Cindy dengan hangat pula.
“Mm…” suara Cindy terdengar pelan.
Papa Cindy bangkit lalu duduk berhadapan dengan Cindy. Kembali dilumat bibir Cindy dengan agak panas. Cindypun membalasnya dengan agak panas pula. Tangan Cindy bergerak ke arah selangkangan Papanya. Sambil tetap berciuman diremasnya pelan kontol Papanya. Terasa kontol Papanya mulai bergerak tegak dan tegang..
“Cindy sayang Papa,” kembali Cindy berbisik.
“Papa juga sama…” kata Papanya dengan nafas memburu.
“Jangan disini, Pa.. Nanti Mama tahu,” kata Cindy sambil bangkit dan menarik tangan Papanya ke kamar belakang.
Papanya menurut mengikuti Cindy. Cindy langsung memeluk dan melumat bibir Papanya dengan liar, Papanyapun membalasnya semakin panas. Tangan Cindy mulai berani disusupkan dan masuk ke celana kolor Papanya, lalu tanpa ragu menggenggam dan meremasnya pelan.
“Mmhh…” suara Papanya tertahan karena masih berciuman.
Cindy kemudian melepaskan pelukannya lalu merendahkan tubuhnya hingga jongkok. Diperosotkan celana kolor Papanya sampai lutut hingga kontol besarnya yang tegak tampak di depan wajahnya. Cindy mengocok pelan kontol Papanya lalu segera mengulumnya. Papanya terpejam sambil memegang kepala Cindy.
“Ohh…” desah Papanya.
Dimaju mundurkan kontolnya di dalam mulut Cindy. Setelah beberapa lama, tubuh Papanya bergetar lalu… Crott! Crott! Crott! Air mani Papanya muncrat di dalam mulut Cindy. Cindy dengan tenang menelannya habis. Cindy lalu berdiri sambil tersenyum.
“Cindy pengen, Pa..” pinta Cindy berbisik.
“Tidak bisa sekarang sayang,” kata Papanya sambil membetulkan celananya.
“Kapan, Pa?” kata Cindy sambil memeluk dan mengecup bibir Papanya.
“Kamu pulang kuliah jam berapa?” tanya Papanya.
“Jam 11, Pa…”
“Kalau begitu Papa jemput kamu di kampus jam 12 untuk makan siang, lalu kita cari tempat…” kata Papanya sambil tersenyum.
“Iya, Pa…” kata Cindy sambil tersenyum pula.
“Kasih tahu pacar kamu untuk tidak jemput, ya?” kata Papanya. Cindy mengangguk.
“Sekarang tidurlah,” kata Papanya sambil mencium bibir Cindy mesra.
Besok harinya sesuai dengan rencana, Cindy dijemput di kampus.
“Mau makan siang dimana?” tanya Papanya.
“Tidak usah makan siang, Pa…” kata Cindy manja.
“Langsung saja…” kata Cindy tersenyum.
Papa Cindypun tersenyum. Mobil langsung di arahkan ke hotel. Di dalam kamar, mereka langsung berciuman. Cindy menatap mata Papanya lalu melepas kancing kemeja Papanya satu demi satu.
“Biar Papa buka sendiri biar cepat. Waktu kita sedikit sayang. Papa harus segera ke kantor lagi,” kata Papanya sambil tersenyum lalau melepas semua pakaiannya.
Cindy juga sama. Tubuh Cindy telentang di atas ranjang. Papanya segera duduk di pinggir ranjang. Tangannya mulai mengelus dan meremas buah dada Cindy. Cindy terpejam menikmati belaian Papanya itu. Sementara tangannya dengan segera meraih kontol Papanya yang sudah tegang besar. Diremas dan dikocoknya pelan. Tangan Papanya mulai turun ke memek Cindy. Diusap dan di gosoknya memek Cindy dengan mesra. Lalu salah satu jarinya mulai memainkan kelentit dan lubang memeknya bergantian. Cindy terpejam sambil menggigit bibir sementara tangannya tak henti mengocok kontol Papanya.
“Cepat masukkan, Pa…” pinta Cindy.
Papanya tersenyum lalu bangkit dan segera menaiki tubuh anaknya. Disentuhkan kontolnya ke memek ke belahan memek Cindy. Cindy menatap mata Papanya sambil tangannya segera meraih kontol dan mengarahkan ke lubang memeknya. Dengan sedikit desakan, kontol Papanya perlahan masuk ke memek Cindy. Cindy terpejam merasakan rasa nikmat dari orang yang sangat disayanginya. Tak terasa air matanya mengalir di pipi.
“Ada apa sayang?” tanya Papanya sambil terus memompa kontolnya.
“Cindy sangat bahagia bisa bersama Papa saat ini,” kata Cindy sambil memeluk erat Papanya.
“Cindy sangat sayang Papa,” bisik Cindy.
“Papa juga sangat sayang kamu,” kata Papanya.
Cindy tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggul Papanya. Kenikamatan dan sensasi yang sangat luar biasa dirasakan oleh Cindy saat itu. Siang itu Cindy dan Papanya dengan liar bersetubuh bermandi peluh dan desahan serta jeritan kenikmatan. Sampai akhirnya terasa kontol Papanya berdenyut tanda akan mencapai orgasme. Dicabutnya kontol dari memek Cindy lalu digesek-gesekan ke belahan memeknya. Tapi Cindy dengan segera bangkit dan langsung menghisap serta mengocok kontol Papanya sampai akhirnya.. Crott! Crott! Air mani Papanya menyembur banyak di dalam mulut Cindy. Cindy menelannya dengan tenang lalu tersenyum. Papanya lalu mencium bibir Cindy.
“Kamu hebat sayang…” bisik Papanya.
“Lebih hebat dari Mama kamu,” kata Papanya lagi.
“Cindy sayang Papa…” bisik Cindy sambil tersenyum.

2 komentar: